Banda Aceh - Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyebutkan, ekspor Aceh di bulan Maret 2011 mencapai 217.382.058 dollar Amerika, naik sekitar 189,66 persen jika dibandingkan dengan bulan Februari yang hanya mencapai 75.048.462 dollar Amerika.“Nilai ekspor bulan Maret 2011 ini naik secara dramatis disebabkan terjadinya peningkatan ekspor komoditi migas sebesar 202,59 persen yang ditujukan ke Australia dan Korea,” kata Kepala BPS Aceh Syech Suhaimi, Rabu (1/6).
Syech mengatakan, ekspor migas Aceh tetap memiliki peranan yang tinggi terhadap nilai ekspor dengan konstribusi sebesar 400 juta dollar Amerika atau sekitar 98,11 persen dari total nilai ekspor Aceh. Namun, kata dia, nilai ekspor migas itu tidak sebanding dengan nilai ekspor pada komoditi non mogas yang mengalami penurunan sebesar 76,98 persen, yakni dari 3,4 juta dollar Amerika di bulan Februari turun menjadi 799,2 ribu dollar Amerika di bulan Maret. Ia mengatakan, penurunan ekspor pada komoditi non migas ini terjadi karena komoditi yang diekspor seperti bahan kimia anorganik mengalami penurunan yang cukup besar. Tetapi, komoditi lain, seperti ikan dan udang terus mengalami peningkatan cukup besar jika dibanding bulan lalu.
Disisi lain, Syech menyebutkan, bulan Mei 2011 ini Banda Aceh kembali mengalami deflasi sebesar 0,39 persen yang dipicu akibat turunnya harga pada pada beberapa komoditas, seperti beras dan cabe merah. “Dari 101 jenis barang dan jasa yang didata perubahan harganya, 51 jenis harganya naik, dan 50 jenis harganya turun yang tidak signifikan,” katanya. Begitu juga dengan untuk Nilai Tukar Petani (NTP) Aceh terhadap kemampuan beli berbagai kebutuhan pokok dengan hasil yang diproduksi bulan Mei 2011, hanya satu subsector mengalami peningkatan meski belum menunjukkan kemampuan beli karena masih berada dibawah angka 100. “Subsektor itu adalah peternakan yang mengalami peningkatan sebesar 0,75 persen dari angka 98,14 menjadi 98,87,” kata Syech. Sementara empat subsektor, yakni tanaman pangan, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat dan perikanan meski turun, namun petani di empat subsector itu masih sanggup memenuhi kebutuhan karena masih berada di atas angka 100. Syech menambahkan, terkait dengan inflasi di daerah pedesaan, bulan Mei ini desa di Aceh mengalami deflasi sebesar 0,48 persen. “Deflasi yang terjadi di daerah pedesaan dipicu terutama oleh turunnya harga-harga barang dan jasa pada kelompok bahan makanan,” katanya.
05.19
banda

0 komentar:
Posting Komentar