Minggu, 05 Juni 2011

Ekspor Aceh Capai 217 Juta Dollar Amerika


     Banda Aceh - Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyebutkan, ekspor Aceh di bulan Maret 2011 mencapai 217.382.058 dollar Amerika, naik sekitar 189,66 persen jika dibandingkan dengan bulan Februari yang hanya mencapai 75.048.462 dollar Amerika.“Nilai ekspor bulan Maret 2011 ini naik secara dramatis disebabkan terjadinya peningkatan ekspor komoditi migas sebesar 202,59 persen yang ditujukan ke Australia dan Korea,” kata Kepala BPS Aceh Syech Suhaimi, Rabu (1/6).
     Syech mengatakan, ekspor migas Aceh tetap memiliki peranan yang tinggi terhadap nilai ekspor dengan konstribusi sebesar 400 juta dollar Amerika atau sekitar 98,11 persen dari total nilai ekspor Aceh. Namun, kata dia, nilai ekspor migas itu tidak sebanding dengan nilai ekspor pada komoditi non mogas yang mengalami penurunan sebesar 76,98 persen, yakni dari 3,4 juta dollar Amerika di bulan Februari turun menjadi 799,2 ribu dollar Amerika di bulan Maret. Ia mengatakan, penurunan ekspor pada komoditi non migas ini terjadi karena komoditi yang diekspor seperti bahan kimia anorganik mengalami penurunan yang cukup besar. Tetapi, komoditi lain, seperti ikan dan udang terus mengalami peningkatan cukup besar jika dibanding bulan lalu.
      Disisi lain, Syech menyebutkan, bulan Mei 2011 ini Banda Aceh kembali mengalami deflasi sebesar 0,39 persen yang dipicu akibat turunnya harga pada pada beberapa komoditas, seperti beras dan cabe merah. “Dari 101 jenis barang dan jasa yang didata perubahan harganya, 51 jenis harganya naik, dan 50 jenis harganya turun yang tidak signifikan,” katanya. Begitu juga dengan untuk Nilai Tukar Petani (NTP) Aceh terhadap kemampuan beli berbagai kebutuhan pokok dengan hasil yang diproduksi bulan Mei 2011, hanya satu subsector mengalami peningkatan meski belum menunjukkan kemampuan beli karena masih berada dibawah angka 100. “Subsektor itu adalah peternakan yang mengalami peningkatan sebesar 0,75 persen dari angka 98,14 menjadi 98,87,” kata Syech. Sementara empat subsektor, yakni tanaman pangan, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat dan perikanan meski turun, namun petani di empat subsector itu masih sanggup memenuhi kebutuhan karena masih berada di atas angka 100. Syech menambahkan, terkait dengan inflasi di daerah pedesaan, bulan Mei ini desa di Aceh mengalami deflasi sebesar 0,48 persen. “Deflasi yang terjadi di daerah pedesaan dipicu terutama oleh turunnya harga-harga barang dan jasa pada kelompok bahan makanan,” katanya.

Investor Asing Tertarik Kualitas Tebu Aceh Tengah

       Banda Aceh - Investor asing menyatakan tertarik dengan kualitas tanaman tebu masyarakat di Aceh Tengah, sehingga berkeinginan untuk segera mendirikan pabrik gula pasir di kabupaten tersebut.“Manajemen perusahaan gula pasir berkantor pusat di Vietnam, menyatakan siap mendirikan pabrik gula setelah melihat langsung tenaman tebu rakyat berkualitas cukup baik,” kata Bupati Aceh Tengah Nasaruddin di Takengon, Jumat (3/6).

Perusahaan gula pasir berkantor pusat di Ho Chi Minh City Vietnam yakni NIVL Join Stock Company meninjau perkebunan tebu masyarakat di Kecamatan Ketol Aceh Tengah pada 3 Juni 2011.
      Tanaman tebu di Aceh Tengah dengan varietas lokal memiliki diameter cukup besar dan ruas cukup banyak serta kadar gula sangat bagus. “Persiden direktur NIVL Join Stock Company Vietnam Nanda Kumar serius berinvestasi untuk mendirikan pabrik gula pasir yang diharapkan produksinya nanti cukup bagi kebutuhan masyarakat, khususnya di Aceh,” kata Bupati didampingi Kabag Humas Pemkab Aceh Tengah Windi Darsa. Kunjungan manajemen NIVL Join Stock Company Vietnam itu di fasilitasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Tanoh Gayo. Pabri gula pasir layak didirikan di Aceh Tengah selain tebunya berkualitas baik juga lahan tersedia cukup luas di dataran tinggi “Tanah Gayo” . Saat ini terdapat tidak kurang dari 8.000 hektare tanaman tebu masyarakat. Bupati menjelaskan selama ini tebu masyarakat di Aceh Tengah hanya diproses untuk bahan baku gula merah, dan komoditas tersebut juga telah dipasarkan ke luar Aceh, seperti Sumatera Utara dan Jakarta. “Dengan adanya pabrik gula pasir akan dibangun investor asing itu maka minimal untuk kebutuhan lokal dan nasional yang permintaannya terus meningkat,” kata bupati.
     Selain itu, kehadiran pabrik gula pasir juga diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat petani di Kabupaten Aceh pedalaman.

‘Aceh Akan Berontak Lagi Bila Jakarta Masih Tak Adil’


      Banda Aceh, Gerakan perlawanan rakyat Aceh terhadap Jakarta dikhawatirkan akan terulang lagi bila pemerintah pusat masih melukai daerah ini dengan ketidakadilan sebagaimana sejarah kelam di masa lalu.
        Hal itu mengemuka dalam diskusi tentang Nasionalisme Pemuda Aceh dalam Ranah Negara Indonesia, yang digelar Lembaga Independen Pemberdayaan Masyarakat Gampong (Lipmaga) Aceh bekerja sama dengan Ditjen Kesbangpol Kemendagri, di Kana Dapu, Lhokseumawe, Jumat (3/6) sore. Diskusi yang diikuti mahasiswa, LSM dan elemen masyarakat ini menampilkan pembicara, Antropolog Teuku Kemal Fasya, anggota DPR RI asal Aceh Muslem, dan tokoh pemuda Baharuddin. Ikut hadir Ketua DPRK Lhokseumawe Saifuddin Yunus dan mantan Pj Wali Kota Lhokseumawe Rahmatsyah. Sepanjang sesi diskusi yang berlangsung ‘memanas’ itu, para peserta dari kalangan mahasiswa, termasuk Ketua DPRK Lhokseumawe Saifuddin Yunus menyoroti sikap dan kebijakan pemerintah pusat di masa lalu yang dinilai melukai rakyat Aceh dengan ketidakadilan. Padahal Aceh telah berjasa besar dalam memerdekakan Republik Indonesia dari penjajahan negara lain. “Rakyat Aceh sudah memberikan semua yang dimilikinya untuk kemerdekaan Indonesia, nasionalisme Aceh untuk Jakarta sangat besar. Tapi kemudian, apa yang diberikan Jakarta untuk Aceh. Warga Blang Lancang (Lhokseumawe) yang sudah puluhan tahun digusur, sampai sekarang tidak memperoleh resettlement,” kata Saifuddin Yunus alias Pon Pang.
     Mahasiswa Fisip Unimal, Refky Bentara, mengatakan, Aceh melawan Jakarta karena ketidakadilan. Sumber daya alam seperti minyak dan gas, kata dia, dikeruk secara besar-besaran dari bumi Aceh. Namun hanya sebagian kecil hasil alam tersebut dikembalikan untuk daerah penghasil, sehingga kehidupan masyarakat di sekitar ladang migas tetap terpuruk selama puluhan tahun. “Sila keadilan yang tercantum dalam Pancasila tidak berfungsi. Orang kaya dan rakyat miskin selalu hidup terpisah-pisah. Damai di Aceh juga tidak berarti kalau rakyat masih lapar. Jika ketidakadilan masih saja diperlakukan oleh Jakarta terhadap Aceh, maka bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan, generasi Aceh seperti kami ini nantinya akan ikut memberontak,” kata Refky Bentara. Dosen Unimal Rusyidi Abubakar menyatakan nasionalisme sudah berakhir sejak pendiri republik ini mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan. Yang harus dilanjutkan oleh generasi pascakemerdekaan, kata dia, bagaimana membangun bangsa dengan kejujuran, keikhlasan, keterbukaan, kepedulian, kerja sama yang baik, bermoral dan tidak melakukan korupsi. “Kalau masih terjadi korupsi di segala lini, jangan harap kita bisa bangkit untuk maju,” katanya.
     Sementara Teuku Kemal Fasya menyebutkan ada kesalahan besar yang dilakukan pemerintah di masa lalu. Di mana, Presiden Soeharto memanfaatkan Pancasila untuk kepentingan politiknya, sehingga ketika Aceh mengkritik Jakarta, dibalas dengan mengirim militer ke Aceh. “Mengapa sebagian orang Aceh trauma bila mendengar Pancasila, karena orang Aceh mengalami perlakuan buruk. Ketika tidak bisa menghafal dengan baik lima sila Pancasila, mereka direndam dalam air,” kata Kemal yang juga peneliti Aceh Institute ini. Menurut Kemal, sejarah buruk yang dialami Aceh pada masa lalu, sebagian besar merupakan kesalahan Jakarta, di antaranya pemberlakukan Daerah Operasi Militer. “Pemberontakan di Aceh karena Jakarta yang kurang ajar. Karena itu, pengungkapan kebenaran masa lalu jauh lebih penting. Dan, ini baru bisa terjadi kalau dibentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi,” katanya.

Aliran Sesat Resahkan Warga Kota Banda Aceh


    Banda Aceh, Warga kota Banda Aceh mengaku resah sejak beredarnya informasi maraknya aliran sesat yang berkembang di ibu kota provinsi Aceh itu. Rini Asriyanti (34) seorang warga Banda Aceh yang berdomisili di Gampong (Desa) Ilie, Ulee kareng, Jumat [11/03] , berharap pihak terkait terutama Majelis Pemusyawaratan Ulama (MPU) Aceh untuk mengumumkan aliran-aliran sesat yang disebut menyesatkan itu. “Nama-nama aliran sesat itu harus diumumkan kepada publik agar tidak ada lagi warga yang terpengaruh dan orang yang sudah terlanjur juda dapat menyadarinya,” kata Rini.
     Menurutnya, sejak beberapa hari terakhir banyak ibu-ibu dan rekan-rekannya yang berdiskusi tentang pendangkalan aqidah yang terjadi dikalangan pelajar dan mahasiswa. “Mereka cemas dan takut kalau putra-putrinya juga terpengaruh dengan aliran sesat itu,” katanya. Aktivis remaja masjid itu juga mengharapkan pelaku  pendangkalan aqidah yang melaksanakan misinya di Aceh itu harus diproses secara hukum. Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan Pemerintah akan mengeluarkan peraturan Wali kota (Perwal) untuk mengantisipasi berkembangnya aliran sesat itu. 
      Selain mengeluarkan perwal, Pemko Banda Aceh juga akan membentuk tim mengawasi aliran sesat yang masih berupaya mempengaruhi warga terutama kalangan pelajar dan intelektual. “Kami juga telah berkoordinasi dengan MPU kota untuk mencari solusi agar masyarakat tidak terpengaruh dengan aliran sesat tersebut,” kata Illiza. Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu juga mengatakan rekruitmen jamaah aliran sesat tersebut dilakukan melalui lembaga-lembaga pendidikan dan sistem penyebarannya juga dilakukan melalui informasi teknologi (IT).
Illiza juga mengimbau orang tua untuk lebih ketat mengawasi putra-putrinya dan kembali memakmurkan masjid dengan pengajian di desa masing-masing.

KRI Banda Aceh-593 Ikuti Imdex Asia di Singapura


     Jakarta (Pelita): Salah satu unsur kapal perang TNI AL dari jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) KRI Banda Aceh-593 mengikuti The International Maritime Defence Exhibition & Conference Asia 2011 (Imdex Asia 2011) yang diadakan selama tiga hari, Rabu-Jumat (18-20/5) di Changi Exhibition Centre,Singapura.Selain kapal perang dari Indonesia, pameran juga diikuti kapal perang dari beberapa negara yang ikut berpartisipasi seperti Australia, Perancis, India, Republik Korea, Rusia,Inggris, dan Amerika Serikat.
       Menurut Kepala Dispen Kolinlamil Letkol Laut (Kh) Maman Sulaeman, KRI Banda Aceh-593 merupakan kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) buatan dalam negeri PT PAL Surabaya. Kapal perang di bawah pembinaan Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Jakarta dengan komandan Letkol Laut (P) May Franky Pasuna Sihombing ini bertolak dari dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok Jakarta, Sabtu (14/5) menuju Singapura. Sebelum bertolak ke Singapura, Panglima Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Laksda TNI Didit Herdiawan, MPA, MBA memerintahkan kepada Komandan KRI beserta seluruh ABK agar senantiasa memerhatikan keselamatan personel dan material. Selain itu, agar memelihara dan menjaga kebersihan kapal selama mengikuti pameran, guna menjaga nama baik bangsa dan negara.
       KRI Banda Aceh-593 adalah kapal keempat jenis LPD yang dipesan dari Korea Selatan, namun pembuatannya dilaksanakan di Indonesia yaitu di PT PAL Surabaya yang dikerjakan langsung oleh putra-putri Indonesia. Kapal perang tersebut memiliki spesifikasi panjang 125 meter, lebar 22,044 meter, berat 7.286 ton. Memiliki kecepatan maksimum 15 knot, daya angkut mampu mengangkut 344 personel, lima helikopter jenis Mi-2/Bel 412, dua unit LCVP, tiga unit howitzer, dan 21 tank. Kapal perang ini juga dipersenjatai dengan meriam kaliber 57 mm dan dua unit kaliber 40 mm dan diawaki oleh 100 orang personel. 

 
Design by Yafizham S | Developer by Plasa 99 - Nusantara News | Banda Aceh